Buku Sehat Sahabat Jiwa: Inovasi Pemantauan Terintegrasi bagi Difabel Psikososial di Purworejo
Dalam upaya memperkuat layanan kesehatan jiwa yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Proyek Every Life Matters (ELM) bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo meluncurkan Buku Sehat Sahabat Jiwa. Buku ini hadir sebagai media pemantauan perkembangan Difabel Psikososial yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga mencakup aspek sosial, produktivitas, dukungan keluarga, hingga akses terhadap layanan dan bantuan sosial.
Dilansir dari Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Purworejo, capaian pemantauan Difabel Psikososial berat periode Januari–Maret 2025 menunjukkan rata-rata kabupaten baru mencapai 38,14% dari target 100%. Dari 27 puskesmas, sebanyak 14 puskesmas berada di atas rata-rata capaian kabupaten dan 13 puskesmas masih berada di bawah rata-rata. Puskesmas Wirun mencatat capaian tertinggi sebesar 70,2%, sedangkan Seborokrapyak menjadi wilayah dengan capaian terendah sebesar 7,7%. Data ini menunjukkan masih adanya kesenjangan capaian antarwilayah sehingga diperlukan penguatan layanan dan pemantauan kesehatan jiwa secara lebih optimal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Kabupaten Purworejo dipilih sebagai lokasi pengembangan proses pemantauan Difabel Psikososial. Selain capaian layanan yang belum merata, masih terdapat tantangan pada aspek pendampingan, pencatatan, serta kapasitas masyarakat dan kader kesehatan jiwa di tingkat desa. Berdasarkan survei tahun 2025 terhadap 136 responden di 40 desa pada 10 kecamatan di Kabupaten Purworejo, sebanyak 67,50% responden belum pernah mendapatkan pelatihan maupun sosialisasi terkait kesehatan jiwa. Situasi ini menunjukkan perlunya sistem pemantauan yang lebih terstruktur dan mudah digunakan untuk mendukung layanan kesehatan jiwa di tingkat dasar.
Sebelumnya, proses pemantauan Difabel Psikososial di Kabupaten Purworejo sebagian besar dilakukan melalui layanan kesehatan di puskesmas berdasarkan rekam medis. Pemantauan tersebut lebih menitikberatkan pada kondisi kesehatan dan kepatuhan pengobatan. Sementara itu, aspek sosial dan perkembangan kehidupan sehari-hari Difabel Psikososial belum terdokumentasikan secara menyeluruh.
Melalui Proyek Every Life Matters, proses pendampingan kemudian diperkuat melalui penggunaan lembar monitoring yang dilakukan oleh kader kesehatan di sembilan desa dampingan. Monitoring tersebut mencakup aktivitas sehari-hari (activity daily living), interaksi sosial, aktivitas produktif, keterlibatan dalam keluarga, akses layanan kesehatan, kepatuhan minum obat, hingga pemanfaatan dokumen kependudukan dan jaminan kesehatan.
Namun, monitoring yang dilakukan masih berada dalam konteks proyek dan hasil pencatatannya belum terintegrasi. Data tersebar di berbagai pihak, mulai dari puskesmas, kader, keluarga, hingga pendamping proyek. Kondisi ini mendorong lahirnya gagasan untuk membangun sistem pemantauan yang lebih terstruktur, mudah diakses, dan dapat digunakan secara berkelanjutan melalui Buku Sehat Sahabat Jiwa.
Penyusunan buku ini terinspirasi dari praktik penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang dinilai efektif dalam mencatat perkembangan dan kebutuhan pendampingan. Selain itu, proses pengembangannya juga mengacu pada pengalaman penggunaan Buku Mata Hati di Kabupaten Sleman. Meski demikian, Buku Sehat Sahabat Jiwa disusun berdasarkan kebutuhan dan konteks layanan di Kabupaten Purworejo.
Proses penyusunan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Difabel Psikososial, tenaga kesehatan, kader kesehatan, pemerintah daerah, organisasi profesi, hingga pihak lintas sektor dan lintas program. Diskusi bersama dilakukan untuk memastikan bahwa buku ini benar-benar relevan dan mampu menjawab kebutuhan pemantauan Difabel Psikososial secara lebih komprehensif.
Melalui buku ini, proses pencatatan dilakukan secara bersama oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pemulihan Difabel Psikososial. Tenaga kesehatan di puskesmas, psikolog atau psikiater, kader kesehatan, keluarga, hingga pemerintah dapat mengisi perkembangan dan dukungan yang diberikan. Dengan demikian, seluruh informasi terkait perkembangan Difabel Psikososial dapat terdokumentasi dalam satu media yang sama. Selain itu, penggunaan Buku Sehat Sahabat Jiwa juga akan dimonitor secara berkala setiap tiga bulan. Monitoring ini dilakukan untuk melihat efektivitas penggunaan buku, kemudahan dalam proses pencatatan, serta manfaatnya dalam mendukung pemantauan dan peningkatan kualitas layanan bagi Difabel Psikososial.
Tidak hanya menjadi alat pencatatan kesehatan, Buku Sehat Sahabat Jiwa juga diharapkan menjadi instrumen untuk mengidentifikasi kebutuhan Difabel Psikososial secara lebih menyeluruh. Misalnya, kebutuhan dukungan sosial, bantuan pemerintah, akses layanan kesehatan, hingga peluang penguatan produktivitas dan kemandirian.
Launching dan sosialisasi Buku Sehat Sahabat Jiwa telah dilakukan sejak Desember 2025 dan dilanjutkan dengan bimbingan teknis di sembilan desa dampingan. Saat ini bimbingan teknis juga sudah dilakukan bagi seluruh puskesmas di Kabupaten Purworejo. Buku tersebut telah menjadi bagian dari sistem Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo dan direncanakan digunakan di 27 puskesmas.
Melalui inisiatif ini, Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo berharap dapat memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa yang lebih inklusif, terintegrasi, dan berorientasi pada kualitas hidup Difabel Psikososial. Kehadiran Buku Sehat Sahabat Jiwa juga memperluas dukungan masyarakat, meningkatkan kesadaran kesehatan jiwa, serta mendukung upaya penghapusan stigma dan eliminasi pasung di Kabupaten Purworejo.
Buku Sehat Sahabat Jiwa dapat diakses melalui tautan berikut: [Buku Sehat Sahabat Jiwa].
Ditulis oleh:
Pekik Joko Sundang
28 Mei 2026