Sari Jiwa: Kader Pengawal Kelurahan Sehat Jiwa
Kader adalah penggerak dalam berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat. Di tingkat desa/kelurahan, kader berperan untuk mendorong partisipasi bermakna kawan-kawan Difabel Psikososial agar terlibat aktif dalam proses pembangunan di masyarakat. Oleh karena itu, peran kader menjadi bagian penting dalam kerja-kerja inklusi disabilitas. Di tangan merekalah tongkat estafet diberikan dan dilanjutkan untuk memastikan kawan-kawan Difabel Psikososial dapat selalu terlibat dalam pembangunan, dimulai dari tingkat desa.
Sari Jiwa adalah nama kelompok kader kesehatan jiwa yang beranggotakan 5 orang di Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo. Jumlah kawan-kawan Difabel Psikososial di Kedungsari sebanyak 24 orang dan 15 orang diantaranya (terdiri dari 5 orang perempuan dan 10 orang laki-laki) telah mendapatkan intervensi mendalam oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Proyek Every Life Matters dengan dukungan SeeYou Foundation. Saat ini satu orang kader jiwa mendampingi 3 kawan-kawan Difabel Psikososial dan keluarganya. Melalui Kelompok Sari Jiwa yang terbentuk sejak tahun 2024, kader-kader berkomitmen untuk mengutamakan prinsip kemanusiaan dan kebahagiaan dalam pendampingan mereka kepada kawan-kawan Difabel Psikososial dan keluarga. Esensi sebagai manusia yang mampu bertumbuh, berkembang, dan mencapai aktualisasi diri, tidak hanya mereka dorong kepada kawan-kawan Difabel Psikososial dan keluarga saja, tapi juga para kader merasakan perubahan-perubahan positif dalam diri.
“Awal mendampingi Nur Arofah, berkali-kali kami meyakinkan keluarga bahwa gejala-gejala yang dialami Mba Nur ini bukan karena hal gaib. Dengan pendekatan terapeutik dibantu Programer Jiwa dan Bidan, perlahan keluarga menyadari kalau Mba Nur harus mendapatkan penanganan medis. Kami juga bantu proses BPJS KIS-nya. Alhamdulilah, sekarang bisa aktivitas produktif menjaga warung. Menerima kunjungan kami tidak lagi dengan wajah kecut tapi dengan senyum dan duluan membuka diri bercerita. Ternyata kawan-kawan Difabel Psikososial itu bisa merasakan ketulusan pendampingan kita. Perubahan mereka yang lebih mencintai diri sendiri, mau maju, menghargai hidup, dan berkeinginan untuk pulih, bagi kami suatu kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh apapun,” ungkap Lutfiah, koordinator Sari Jiwa.
Pada Desember lalu, Sari Jiwa mengajak kawan-kawan Difabel Psikososial, pendamping/keluarga, dan Kelompok Disabilitas Kelurahan Sari Mukti bersama-sama menciptakan kenangan indah dengan gathering dan healing di Candi Borobudur. Kawan-kawan Difabel Psikososial diajak untuk mengakses layanan publik Trans Jateng, bersosialisasi dengan dunia luar serta masyarakat sekitar. Kegiatan ini juga menjadi upaya advokasi kebijakan layanan transportasi yang masih belum berpihak kepada kawan-kawan Difabel Psikososial dan mendorong pemahaman bersama bahwa mereka juga berhak untuk melakukan kegiatan yang sama seperti kita.
“Kalau saya sebenarnya sadar, sudah banyak ejekan dari warga selama menjadi kader jiwa. Tapi itu nggak tak rasakan. Mumpung saya masih sehat dan bisa jalan! Semangat kayak gini saya dapatkan setiap mendampingi Mas Ngadul Chakim. Ia sudah bisa memiliki persepsi diri, bagaimana caranya agar tidak lagi dijelek-jelekkan orang. Sehingga ia mulai dengan konsisten minum obat & tetap beraktivitas produktif agar semakin pulih. Saya terus bombong atinya. Ada tetangga meninggal ia sudah peka bantu nggodog wedhang dan asah-asah. Kerja bakti kampung juga ikut. Ternyata cara pendekatan saya diterima. Nah, sekarang sedang tahap disapih memunculkan inisiatifnya agar mau mandiri ambil obat,” tutur Sri Hartati, kader jiwa tertua yang juga tergolong lansia ini.
Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan jiwa harus dimiliki semua orang, tidak terkecuali lingkungan masyarakat. Dengan memiliki jiwa yang sehat, akan mampu membentuk relasi sosial, menjaga produktivitas, serta membangun hubungan yang seimbang di masyarakat. Sari Jiwa juga menginisiasi untuk membuat alur rujukan kegawatdaruratan di tingkat Kelurahan. Upaya kecil ini dilakukan untuk mengawali pembentukan satgas kesehatan jiwa di Kedungsari. Sari Jiwa meyakini dengan kolaborasi yang semakin kuat, diharapkan menjadi landasan advokasi bersama untuk kesehatan jiwa yang berbasis data dan kebutuhan kawan-kawan Difabel Psikososial serta pendamping/keluarga secara holistik dan komprehensif, sehingga dapat tepat sasaran dalam pemenuhan hak-hak kawan-kawan Difabel Psikososial. Salah satu mimpi Sari Jiwa yang akan dikerjakan adalah mendorong agar Terapi Aktivitas Kelompok, Terapi Aktivitas Produktif, dan Peer Support menjadi bagian utuh dalam pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas maupun Rumah Sakit.
“Memang awalnya terpaksa kami bekerja, yowislah daripada nggak ada yang mau jadi kader jiwa. Tapi semakin dikerjakan, kader-kader justru makin enjoy dan meyakini inilah panggilan hati, kartu menuju surga. Karena kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Hidup untuk apa kalau bukan bermanfaat untuk sesama? Sekarang kami bangga dengan memulai dari lingkungan terdekat, Kelurahan Kedungsari. Ibaratnya orang mau menstigma kami dengan label apapun, itu nggak mempan. Justru itu jadi motivasi buat kerja-kerja kami mengawal kesehatan jiwa di sini,” pungkas Lutfiah.
Lutfiah menekankan, keberadaan Sari Jiwa ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat. Dengan adanya sosialisasi bertahap, masyarakat menjadi lebih peduli serta dapat melakukan deteksi dini jika menemukan kasus jiwa baru di sekitarnya. Kasus baru yang terdeteksi oleh kader jiwa itu kemudian dilaporkan ke Puskesmas Cangkrep dan TPKJM Kecamatan guna mendapat perawatan. Lebih lanjut, dengan adanya Sari Jiwa ini perlahan menginisiasi satgas kesehatan jiwa yang melibatkan tetangga sekitar untuk memberikan dukungan moral kepada kawan ODDP dan keluarganya, serta terdapat koordinasi yang lebih jelas di antara stakeholder yang terlibat saat menangani kawan ODDP yang relapse.
Kini, satu tahun setelah adanya inovasi Sari Jiwa, masyarakat Kedungsari dapat merasakan manfaatnya. Tidak hanya pandangan masyarakat terhadap ODDP yang makin membaik, tingkat pelibatan bermakna kawan ODDP dalam kegiatan-kegiatan masyarakat pun bertambah. Hadirnya kader jiwa di tengah masyarakat meningkatkan wawasan dan kepedulian kepada kawan ODDP.
Penulis: Tim Proyek Every Life Matters
30 Januari 2026